![]() |
| Gunung Selamet, ikon purwokerto |
Purwokerto, Apakah saudara sudah mendengar nama Kota Purwokerto? Mungkin masih asing di
telinga anda. Kota ini terletak di kawasan selatan gunung Slamet atau sebelah
selatan Baturraden yang asri nan sejuk dan masuk daerah Kabupaten banyumas, Propinsi
Jawa Tengah, Indonesia. Dan merupakan ibu kota dari kabupaten Banyumas. Orang
akan mengingat mudah kota ini dengan sebutan kota Mendoan, karena hampir
sebagian besar warga Purwokerto gemar makan mendoan, termasuk saya...he.
Ada juga yang menyebut kota kripik, trus kota Satria dan ada yang menyebut
Purwokerto sebagai kota Transit. Karena lokasinya yang rada nanggung, tidak ada
bandara, tidak ada pelabuhan ke Jakarta jauh, ke Jogja juga lumayan jauh.
Kebanyakan orang yang mau ke Jogja, transit dulu ke Purwokerto untuk beristirahat
sebentar. Tapi bagi saya sendiri lebih senang kalau Purwokerto di sebut sebagai
kota Mendoan, karena hampir setiap minggu masyarakat kota ini menggoreng
mendoan. Sebagai lauk sehari-hari dan sudah menjadi Makanan khas Purwokerto.
Jumlah penduduk kota ini sekitar berjumlah 300.000 jiwa, dengan sebagian besar
mata pencahariannya sebagai petani untuk pedesaan dan sektor informal untuk
kawasan perkotaan misal pedagang, rumah makan, biro jasa dan lain-lain. Di kota
ini jarang sekali ada pabrik atau industri, kalau ada mungkin bisa di hitung
dengan jari. Makanya kebanyakan warga Purwokerto lebih suka pada merantau ke
luar kota karena UMR kota Purwokerto masih rendah.
Kota ini mengandalkan dari sektor jasa, pertanian dan pendidikan. Di sektor
pendidikan lah yang paling banyak menyerap tenaga kerja, dengan munculnya
banyak pedagang dan usaha di kawasan Unsoed ( Universitas Jendral Sudirman)
yang nota bene merupakan salah satu Universitas besar di Jawa Tengah. Dan
kawasan ini paling pesat kemajuan bidang perekonomiannya. Contoh daerah yang
makin pesat sekarang ini adalah Desa Karang Wangkal, Grendeng, Sumampir, Bancar
kembar, Gor Satria Purwokerto.
Bahasa yang digunakan masyarakat kota ini adalah bahasa Banyumasan khas,
dan bahasa ini juga digunakan di daerah kabupaten Purbalingga, Kebumen, Cilacap
dan sebagian Tegal dengan dialek yang hampir sama. Orang bilang biasa disebut
bahasa ngampak, tapi saya sendiri lebih suka menyebut sebagai bahasa
Banyumasan.
Cukup sekian, coretan saya
nggih..maturnuwun sedulur...




Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Silahkan Berkomentar yang Baik, Asal Jangan Spam, No SARA